Home Teknologi Tekno lain Begini Cara Cloudera Tangkis Penyebaran Berita Bohong

Begini Cara Cloudera Tangkis Penyebaran Berita Bohong

CEO Cloudera Tom Reilly. Liputan6.com/Jeko I.R.

246
0

Liputan6.com, Jakarta – Cloudera merupakan salah satu perusahaan penyedia solusi yang begitu getol memanfaatkan big data, machine learning, dan kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence). 

Bentuk upaya yang dilakukan adalah dengan memberantas penyebaran informasi hoaks dan juga berita bohong alias fake news.

Untuk melakukan langkah tersebut, Cloudera bekerjasama dengan situs berita Reuters—lewat Thomson Reuters—dengan menciptakan tool bernama Reuters Tracer.

“Kita harus akui sumber berita kini begitu banyak diakses lewat Twitter. Namun tantangannya, sulit untuk bisa memilah informasi yang asli dan palsu dari situ. Karenanya, kami bekerjasama dengan Thomson Reuters untuk membantu jurnalis dan kalangan profesional menemukan berita bohong dengan bantuan machine learning dan sistem analitik,” ujar CEO Cloudera Tom Reilly kepada Tekno Liputan6.com di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Adapun Tom mengklaim Reuters Tracer adalah jurnalis bot yang sudah terlatih dan dapat memilah 13 juta twit setiap harinya untuk mendeteksi apakah ada twit mencurigakan yang berisikan berita palsu atau tidak. 

Jika twit tersebut bersifat opini, maka Reuters Tracer bisa memutuskan apakah itu bersumber dari ahli.

Reuters Tracer juga menyediakan fitur skor berita untuk setiap twit yang dilihat, setiap twit akan diskor dari rendah ke tinggi untuk membuktikan kredibilitas informasi yang disajikan.

“Reuters Tracer dirancang dengan platform terkini Cloudera berbasis machine learning dan advanced analytics,” sambung Tom.

Dengan demikian, ia dapat bekerja secara akurat untuk menganalisis informasi dengan cepat.

Cloudera mengklaim Reuters Tracer dapat bekerja kurang dari 40 milidetik dalam mendeteksi setiap informasi yang disajikan.

Merger dengan Hortonworks, Cloudera Hadirkan Cloud Data Enterprise Pertamanya

Cloudera baru saja mengumumkan telah melakukan aksi korporasi—merger—dengan perusahaan Hortonworks.

Secara perjanjian definitif, kedua pihak akan bergabung dalam merger setara dengan semua saham.

Aksi korporasi ini juga telah disepakati oleh dewan direksi dari masing-masing perusahaan. Nantinya, baik Cloudera dan Hortonworks akan menjadi penyedia platform data generasi berikutnya dengan cakupan multi-cloud, on-premise, dan Edge. 

Dengan demikian, kombinasi tersebut menetapkan standar industri untuk mengelola data cloud hybrid, yang dapat mempercepat adopsi pelanggan, pengembangan komunitas, dan keterlibatan mitra. 

“Bidang usaha kedua perusahaan saling melengkapi dan strategis. Dengan menyatukan investasi Hortonworks dalam pengelolaan data end-to-end dan investasi Cloudera dalam penyimpanan data dan pembelajaran mesin, kami akan menghadirkan cloud data enterprise mulai dari Edge ke AI (Artificial Intelligence) pertama di industri,” kata CEO Cloudera, Tom Reilly, di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

“Visi ini akan memungkinkan perusahaan untuk memajukan komitmen bersama terhadap kesuksesan pelanggan dalam mencapai transformasi digital,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, CEO Hortonworks Rob Bearden, mengakui merger ini bisa memberikan nilai bagi pemegang saham dari masing-masing pihak.

“Bersama-sama, kami berada di posisi yang tepat untuk terus tumbuh dan bersaing di pasar streaming serta IoT (Internet of Things), pengelolaan data, penyimpanan data, machine learning dan AI, serta cloud hybrid,” ucapnya.

Pemegang Saham

Menurut ketentuan dari perjanjian transaksi, pemegang saham Cloudera akan memiliki sekitar 60 persen dari ekuitas perusahaan gabungan dan pemegang saham Hortonworks akan memiliki sekitar 40 persen. 

Nanti, pemegang saham Hortonworks akan menerima 1.305 lembar saham Cloudera untuk setiap saham Hortonworks yang mereka miliki, ini didasarkan pada rasio pertukaran rata-rata 10 hari dari harga kedua perusahaan hingga 1 Oktober 2018. 

Kedua perusahaan juga memiliki kombinasi nilai ekuitas fully-diluted sebanyak US$ 5,2 miliar berdasarkan harga penutpan pada 2 Oktober 2018.

Pada kesempatan yang sama, Cloudera juga mengumumkan kolaborasinya dengan salah satu bank terbesar di Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Dalam hal ini, BRI memanfaatkan sejumlah implementasi solusi dari Cloudera untuk membentuk ‘benteng’ menghadapi serangan siber seperti fraud.

“Untuk menghadapi fraud, kami lakukan upaya risk prevention dengan mempercayakan hal ini ke Cloudera. Seperti diketahui, BRI itu adalah bank terbesar di Indonesia, kami punya lebih dari 24.000 ATM yang tersebar di seluruh penjuru. Tentu risiko ancaman tidaklah mudah ditangani,” sebut Kaspar Situmorang, Executive VP BRI.

Kaspar mengakui, salah satu implementasi solusi yang dilakukan BRI bersama dengan Cloudera adalah Fraud Detection System, yang memanfaatkan basis big data. 

“Kita memang punya banyak e-channel, tetapi monitoring-nya harus diakui sangat susah. Apalagi ancaman fraud berupa ATM skimming, makanya fokus kita untuk mencegah hal itu terjadi bersama Cloudera,” tambahnya.

(Jek/Isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here